Minggu, 06 Februari 2022

Pers dan Generasi Muda

 Beberapa waktu terakhir perkembangan teknologi informasi begitu meningkat pesat. Perubahan informasi terjadi dalam hitungan detik dan itu berasal dari seluruh penjuru dunia. Tanpa kesanggupan dalam memfilter diri terhadap paparan pemberitaan tersebut bisa berakibat tidak baik bahkan bagi perkembangan pembangunan di negeri kita. Insan-insan pers yang saat ini didominasi oleh generasi muda/millennial menyajikan berbagai macam berita dengan gencar, masif dan sering bisa memanaskan jagat informasi. Tidak jarang karena mengejar sensasional atau disampaikan secara terburu-buru (tidak ingin kalah cepat dibanding media yang lain) maka menyebabkan berita yang disampaikan tidak akurat dan bahkan bisa membunuh karakter pihak yang diberitakan. Saya yakin masih banyak insan pers yang demikian korektif dan hati-hati dalam memberitakan sesuatu. Saya juga percaya bahwa para kawula pers masih menjaga betul idealismenya. Mengingat bahwa pers/media massa merupakan salah satu bagian dari pentahelix yang sangat powerfull maka sudah sewajarnya bila pemberitaannya diberi judul yang tidak provokatif karena tidak jarang para pembaca dan pemirsanya hanya membaca judulnya saja. Celakanya kalau antara judul dengan isi pemberitaan tidak sesuai; itu yang sering menyebabkan polemik berkepanjangan. Selamat hari Pers Nasional 2022, semoga menjadi momen yang baik untuk koreksi diri dan bisa menjadi salah satu lokomotif perkembangan dan perbaikan pembangunan di tanah air. Jayalah selalu Pers Indonesia.

Rabu, 05 Januari 2022

Import???!!!

 Kata ini sangat menjengkelkan bagi para produsen atau mereka-mereka yang cinta pada produksi dalam negeri. Ini tidak lain karena sering menyebabkan kekacauan harga dan melorotnya harga di tingkat produsen. Bagi para pedagang, import bisa menguntungkan bisa pula merugikan. Bagi pengimport tentu saja merupakan bisnis yang sangat menggiurkan karena tinggal angkat tilpun, kontak sana sini, sediakan dana untuk beli dan memperhitungkan biaya-biaya siluman yang biasa dilakukan oleh "pemalak" maka sudah bisa diperkirakan berapa keuntungan yang diperoleh. Apalagi jika dalam jumlah besar maka sudah pasti keuntungan besar pula yang didapat. Kondisi yang membentuk mafia ini sampai sekarang sulit untuk diberantas karena melibatkan banyak pihak dan menggurita. Bagi pedagang yang menggantungkan pada produk dalam negeri, ini bisa menggerus keuntungan yang diperoleh. Namun lagi-lagi yang sangat tidak diuntungkan adalah pihak produsen, bisa-bisa tekor karena tidak mampu bersaing harga di pasaran. Biaya produksi tidak sesuai dengan harga pasaran ...kondisi semacam ini bila dibiarkan terus akan makin mengurangi jumlah produsen dan lapangan kerja yang diciptakan. Sifat yang mau mudahnya sendiri yang dimiliki oleh kalangan importir ini diperparah oleh sikap sebagian masyarakat yang tidak nasionalis. Mereka lebih suka mengimport daripada mengeksport. Berbagai pihak menggembar gemborkan mudahnya melakukan import dan keuntungan yang bisa dengan mudah diperoleh dibanding mempromosikan produk-produk dalam negeri ke dunia luar. Bila langkah yang disebut terakhir ini lebih merajalela dan menggurita maka cuan yang bisa diperoleh akan mampu mensejahterakan masyarakat berbagai lapisan/strata sosial. 

Beberapa waktu yang lalu, kita disibukkan oleh berita import beras yang selama beberapa tahun ini selalu dilakukan menjelang panen raya. Ini tidak saja mempengaruhi psikologis para petani yang berhasil menanam padi tetapi juga merusak harga gabah di tingkat petani. Maka jangan heran kalau kemudian masyarakat sudah malas menjadi petani dan lebih senang menjadi buruh pabrik dan menjual lahan sawahnya. Menjadi buruh pabrik dirasa lebih menguntungkan karena perputaran uangnya jauh lebih cepat daripada bertani dan berkebun. Akibatnya bisa jadi suatu saat akan terjadi kelangkaan pangan dan harga barang/komoditas pertanian meroket. Ketidakpekaan pengambil keputusan dan para wakil rakyat terhadap berbagai keluhan yang terjadi di masyarakat bisa menjauhkan masyarakat dari tujuan pembangunan nasional yang disampaikan dalam mukadimah/pembukaan UUD45. Kalau sudah begini, siapa yang berani mengacungkan telunjuk dan mengatakan: sayalah yang bertanggungjawab?!

Rabu, 24 Februari 2021

Memberantas mafia?

 Kita semua menginginkan bahwa segala bentuk mafia dihilangkan karena benar-benar merupakan bagian dari masalah di manapun di dunia ini. Mafia tanah, pertanian dan perdagangan bergerak di setiap tataran kehidupan bangsa ini sehingga merugikan rakyat. Tanah (lahan) beserta berbagai bangunan dan tanaman di atasnya seringkali digarap orang-orang tertentu untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Mata rantainya dari mulai tataran kebijakan sampai tataran lapangan dan mereka menggunakan jaringan yang sangat rapi. Ketika coba diungkap hanya sampai tataran lapangan saja, tidak sampai pada level kebijakan yang melibatkan oknum pejabat dan politisi nakal. Hal ini seringkali sudah dianggap menjadi sesuatu yang biasa karena hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Itulah sebabnya berbagai perkara besar hanya hangat hangat tahi ayam, begitu sudah tidak diberitakan oleh media massa maka berlalu pulalah kasusnya. Tidak pernah tuntas dan menjadi sesuatu yang sifatnya laten. Keadilan sosial, sebenarnya seperti itulah yang diinginkan oleh masyarakat.

Permainan angka dan informasi (misal tentang komoditas pertanian tertentu) menjadi salah satu rantai yang harus diputus.Transparansi melalui digitasi harus terus menerus diupayakan dan bisa diakses luas dalam batas-batas tertentu yang tidak membahayakan keamanan negara.

Kamis, 11 Juni 2020

Sudut pandang masyarakat ...

Beberapa waktu yang lalu telah terjadi banjir import produk pertanian ke dalam pasar dalam negeri. Ini merupakan langkah pemerintah dalam mengantisipasi harga dan ketersediaan 11 produk pertanian yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak bahkan termasuk sayur mayur. Hal ini sebagian dikeluhkan para petani dan banyak masyarakat yang lain karena terjadi "kerusakan harga" yang tidak menguntungkan para petani. Pedagang dan pihak ketigalah yang diuntungkan dengan kondisi tersebut. Dari sekilas survey yang dilakukan untuk menjaring pendapat masyarakat maka penyebab petani tidak diuntungkan oleh kondisi panen adalah:
1. Kongkalingkong antara oknum pemerintah dan DPR dalam membuat kebijakan. Kebijakan atau tata aturan atau perundang-undangan yang berlaku seharusnya makin berpihak kepada petani yang ditunjukkan misal dengan kesejahteraan petani yang meningkat dan makin banyak pihak khususnya generasi muda yang tertarik menekuni bidang pertanian.
2. Biaya produksi yang jauh lebih besar daripada harga jual. Masyarakat tani tahu betul bagaimana mahalnya ongkos produksi produk pertanian. Untuk biaya sewa/pengolahan lahan; benih, pupuk, perawatan, dan buruh misalnya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ini belum kalau kemudian saat panen, membanjir produk import tentu akan makin menjatuhkan harga.
3. Rantai distribusi pangan yang dikuasai mafia. Mafia banyak bertebaran dimana-mana dimana mulai dari tingkat lapangan sampai tingkat pembuatan kebijakan. Sebagian mempermainkan data dan informasi serta sebagian yang lain sebagai kelompok penekan pembuat kebijakan/undang-undang dan berbagai upaya lain yang sangat menguntungkan pihak mafia.
4. Daerah produsen dan konsumen yang tidak terkoneksi dengan baik. Tidak jarang berita-berita tentang wilayah yang sedang tanam, panen di pihak produsen tidak tersampaikan informasinya kepada masyarakat konsumen. Akibatnya tidak jarang di suatu wilayah produsen kebanjiran produk pertanian sementara pada pihak konsumen terjadi kelangkaan barang. Bila infrastruktur dan suprastruktur mendukung maka bukan tidak mungkin harga pangan stabil dan kesejahteraan petani meningkat.
5. Petani tidak berkelompok/membentuk kelompok tani atau gabungan kelompok tani sehingga posisi tawar lemah. Dengan berkelompok, misalnya menjadi eksportir, maka selain akan meningkatkan posisi tawar, juga akan meningkatkan devisa yang mendorong kesejahteraan anggota gapoktan tersebut. Kerelaan untuk berbagi peran dan tanggung jawab serta hak akan menjamin terjadinya pembagian yang adil di antara anggota.
6. Mindset yang belum berubah, baik di pihak pemerintah, pedagang maupun petani. Di pihak pemerintah barangkali menganggap bahwa petani adalah kelompok orang yang mudah diatur, demikian pula anggapan pedagang. Petani adalah kelompok yang sangat dibutuhkan untuk meraih suara dalam Pemilu dan meraup keuntungan lainnya. Sedangkan bagi para petani pekerjaan tani merupakan pekerjaan warisan dari para orang tuanya dan merupakan pekerjaan yang kurang menuntut banyak kreasi dan inovasi. Petani lebih suka menyekolahkan anaknya untuk tidak menjadi petani merupakan salah satu penguat bahwa orang tuanya tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Bagi kalangan muda, pekerjaan tani juga banyak dianggap sebagai pekerjaan yang kotor (belepotan tanah/lumpur/kotoran) dan kurang bergengsi dibanding kerja menjadi dokter, pegawai negeri sipil, banker dsb. Tentu ada sebagian pula yang tidak berpikir demikian.
7. Menggunakan paradigma lama dimana menjadi petani susah untuk menjadi makmur. Kenyataannya paradigma ini sudah mulai mengalami pergeseran dimana tidak jarang petani menjadi makmur karena menerapkan pertanian modern yang organik dan efisien. Harga jual produk pertanian yang dipasarkan dengan cara-cara kreatif dan inovatif terbukti juga mengangkat kesejahteraan banyak pihak.
8. Menghasilkan produk di bawah standard. Kita mengetahui bahwa masih banyak produk-produk pertanian yang belum memenuhi standard tertentu ketika dijual atau dilempar ke pasar. Untuk bisa dijual di supermarket harus menjalani proses tertentu sehingga kualitasnya terjamin. Standard kesehatan, kemasan dan lain-lain masih belum menjadi perhatian utama padahal konsumen menginginkan produk pertanian yang terseleksi kualitasnya. Quality control harus menjadi perhatian bila menginginkan produk standard apalagi jika dieksport. Produk tersebut harus memenuhi standard internasional khususnya di negara pengimport produk tersebut.
9. Belum menjamurnya Desa Digital dimana produk-produk bisa dipasarkan secara online, mencapai konsumen dengan cepat, kualitas terjamin (tidak layu atau rusak), harga stabil dan terjangkau.
10. Kelembagaan, misalnya Koperasi Unit Desa atau Kelompok Usaha Bersama serta bentuk organisasi lainnya yang belum berjalan dengan baik. Sudah banyak kelompok-kelompok yang mempunyai ketertarikan pertanian yang sejenis namun mengingat sangat demokratisnya maka menjadi organisasi yang tanpa bentuk dan tidak terorganisir.
Berbagai hal di atas sebenarnya mungkin sudah disadari oleh banyak pihak tapi kurang terinformasikan dengan lebih baik, dengan bahasa yang mudah dipahami semua pihak, saling bisa menerima bagian keuntungan masing-masing (simbiosis mutualisma) dengan proporsi yang seimbang. Petani sebagai garda depan dalam penopang kehidupan suatu negara sudah semestinya mendapatkan perhatian tinggi mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap waktu. Suatu negara yang ditopang oleh pertanian yang kuat, biasanya bisa bertahan terhadap gangguan ekonominya.Wabah covid-19 yang saat ini melanda dunia akan secara bertahap bisa dilalui bila produk pertanian yang berimbas pada perekonomian terjaga dengan baik. 

Sabtu, 02 Mei 2020

Kondisi mahasiswa selama pandemi Covid-19

Tak terasa bahwa sudah sebulan lebih kita melaksanakan belajar, bekerja dan beraktivitas lainnya dari rumah. Semua pekerjaan dilakukan secara online atau semi online. Masih ada sebagian wilayah yang melaksanakan berbagai kegiatan yang sifatnya offline tapi itupun sangat terbatas. Sebagai contoh bagaimana seorang mengajar yang datang ke siswanya dari rumah ke rumah dengan harapan agar siswanya tidak mengalami masalah dalam mengejar ketertinggalan di sekolah. Sebenarnya tidak hanya anak sekolah dari TK sampai dengan SMA yang mengalami masalah kendala komunikasi ini. Di perguruan tinggipun demikian juga. Sebagian karena kendala teknis dimana akses listrik dan internet yang tidak bagus maka kegiatan online menjadi terganggu. Bagi sebagian pihak, cara online memang memudahkan tugas namun bagi pihak lain akan memperberat dan menyulitkan dalam melaksanakan tugas. Bagaimana misalnya bila mahasiswa dibebani untuk membuat produk hands-on atau melakukan praktek laboratorium untuk menyelesaikan studinya. Jadi sebenarnya banyak kendala teknis yang menghadang untuk terselenggaranya pendidikan yang berteknologi tinggi dan padat investasi awal ini.
Bayangkan bagaimana bila semua pihak di perguruan tinggi bisa dilaksanakan dengan online. Ada sementara pihak yang berambisi agar pendidikan perguruan tinggi dapat dirasakan oleh 100 juta penduduk dunia gratis dengan cara online ini. Bahkan rencananya berbagai pihak dari universitas terkemuka dunia merencanakan untuk turut berkontribusi dalam mencerdaskan masyarakat dunia tersebut. Ini merupakan gagasan besar yang harus terus membesar agar semua potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia dunia bisa diberdayakan dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran dunia yang berkeadilan.
Kita mempunyai sumber daya alam, tanah, dan air yang terkandung di dalamnya yang dikuasai oleh negara dan diharuskan oleh Undang-Undang Dasar 1945 untuk dipergunakan bagi kemakmuran rakyat sebesar-besarnya. Amanat yang harus dijunjung tinggi dan membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan tangguh serta terampil. Salah satu kunci utama di sini adalah dunia pendidikan yang merdeka yang ditunjang oleh berbagai sarana dan prasarana yang memadai. Kesehatan yang baik dalam berbagai sisi merupakan penopang pendidikan yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Semoga kesehatan dalam semua bidang yakni psikologis, pertahanan dan keamanan, sandang, pangan, papan, manajemen, informasi dan lain-lain bisa menunjang agar suatu negara bisa makin mandiri dan maju. Bangsa akan makin sejahtera lahir dan batinnya.

Selasa, 17 Maret 2020

Mindset generasi muda ...

Beberapa waktu yang lalu diadakan diskusi bagaimana peran generasi muda terhadap permasalahan pangan yang terjadi saat ini. Tujuan dari diskusi tersebut adalah mencari win-win solution agar semua pihak diuntungkan. Stakeholder yang dimaksud adalah petani, pedagang/pengusaha dan pemerintah. Berikut ini pandangan generasi muda kita bila mereka adalah pemerintah, pedagang dan petani.

1.       Pemerintah mencoba mencari solusi yang menguntungkan bagi semua pihak. Namun, pada kenyataannya pedagang dan petani merupakan stakeholders yang diuntungkan paling banyak. (Pertanyaan: Benarkah petani juga diuntungkan paling banyak?). Maka pemerintah harus menemukan solusi yang seimbang bagi semuanya.
2.       Pemerintah melakukan analisis kondisi ke petani dan pedagang lalu mengatur perdagangan hasil tani
3.       Mengatur tanaman yang ditanam di setiap daerah agar tidak ada kelebihan atau kekurangan pangan yang menghasilkan kerugian bagi semua pihak (misalnya daerah A menanam cabai dan daerah B menanam tomat)
4.       Mengadakan pelatihan bagi petani dan menyediakan alat untuk petani agar petani lebih tercerdaskan dalam bertani.
5.       Pengaturan harga pasar agar tidak ada kesenjangan harga
      Apa yang diuraikan di atas adalah perspektif dari pemerintah, sedangkan solusi yang disampaikan oleh pedagang adalah bahwa pemerintah harus memberikan regulasi dan lisensi untuk pemerataan harga sehingga tidak ada kesejangan antar pedagang. Harga produk pertanian cenderung memiliki harga yang sama pada setiap toko. Harga produk pertanian cenderung memiliki harga yang sama pada setiap toko. Produk pertanian dari petani harus melalui pedagang tanpa perlu melalui pengepul (tengkulak) agar rantai distribusi tidak panjang dan harga produk pertanian relatif stabil. Pemerintah perlu membuat tempat penyimpanan yang baik untuk hasil panen sehingga produk pertanian tidak cepat rusak. Sistem konversi barang juga menjadi hal yang dapat dilakukan seperti layaknya sistem barter. Selain itu untuk petani, para pedagang juga akan menyediakan modal untuk petani membuka dan memelihara lahan. Hasil dari produk pertanian keuntungannya akan dibagi untuk pedagang dan petani. Hal ini dapat menguntungkan petani-petani kecil yang kekurangan bahkan tidak ada modal.

Beberapa dekade terakhir ini, produk pertanian sering berubah tak menentu membuat harga yang terus menerus naik. Petani sebagai pekerjaan produsen penghasil produk pertanian menjadi orang pertama yang berada di balik layar. Walaupun begitu, kegagalan panen dan banyaknya tengkulak sebagai distributor membuat petani seringkali dirugikan. Oleh karena itu, kami sebagai mahasiswa yang menelaah peran apa saja yang dapat dibuat oleh petani memiliki berbagai pendapat untuk solusi permasalahan ini, yaitu :

  1. Petani melakukan proses budidaya tidak serentak. Para petani menanam tanaman apa saja, bukan hanya tanaman yang banyak disukai masyarakat. Tujuan langkah ini adalah agar nilai produk pertanian akan terus stabil karena ketersediaan yang terus ada.
  2. Menerapkan metode penanaman polikultur dimana tanaman dengan beberapa jenis yang berbeda bisa ditanam sekaligus. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan petani, karena dengan lahan yang kecil bisa menghasilkan beberapa spesies tanaman pertanian sekaligus.
  3. Melakukan kegiatan pertanian dan peternakan sekaligus. Pupuk kandang dari peternakan yang dibuat oleh petani sendiri dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan mengurangi pengeluaran. Hal ini juga akan mengurangi putusnya rantai kehidupan dalam agroekosistem lahan pertanian.
Membuat lumbung padi atau tanaman pertanian lainnya dengan sistem yang dapat mengurangi pembusukan tanaman pertanian. Sistem yang dimaksud adalah dengan memanipulasi pH, kelembapan, suhu, dan faktor-faktor yang dapat mempercepat pembusukan. Hasil panen yang belum dijual saat itu bisa disimpan dan dijual dengan kualitas yang baik di kemudian hari.



Jumat, 31 Januari 2020

Mengenal diri sendiri maka anda akan ...

Baru baru ini saya mengedarkan kuesioner terkait pengenalan diri mereka, siapa dirinya, apa cita-citanya, bagaimana cara untuk mencapai cita-citanya tersebut, dan apa yang akan dilakukan untuk membantu pemerintah saat ini dan mendatang. Kuesioner ini telah saya jalankan selama 3 tahun dan ternyata sangat menarik hasilnya. Kebanyakan mahasiswa sudah mengenal dirinya dengan baik dan mampu memandang ke depan, punya visi dan cita-cita yang sangat serius untuk kemajuan bangsa ini. Ada yang cita-citanya menjadi peneliti, pejabat pemerintah, pengusaha, wiraswastawan dsb. Beberapa menyatakan ingin menjadi menteri pada salah satu kementrian ataupun kalau menjadi peneliti, tidak tanggung-tanggung yakni menjadi peneliti kelas dunia. Jadi pengusahapun menjadi pengusaha kelas kakap yang mampu mengeksport produk usahanya. Ketika ditanyakan bagaimana mereka bisa mencapai cita-citanya tersebut, merekapun dengan gamblang menyatakannya. Saya pikir merekapun serius dengan pernyataan-pernyataannya, bermimpi namun berpijak pada kenyataan dari tekad yang mereka suarakan. Merekapun peduli pada masalah lingkungan di sekitarnya meskipun kadangkala tidak sesuai dengan bidang studi yang ditekuninya. Setidaknya bila ada berita hoaks, merekapun cukup tanggap untuk mengcounternya atau mengklarifikasinya. Pada permasalahan masyarakat kelas bawah, merekapun juga peduli. Mereka melakukannya sesuai kemampuan yakni dengan perbuatan, dengan perkataan, atau dengan doa.

Pers dan Generasi Muda

 Beberapa waktu terakhir perkembangan teknologi informasi begitu meningkat pesat. Perubahan informasi terjadi dalam hitungan detik dan itu b...